Dalam kehidupan sehari-hari
banyak sekali sampah dan limbah yang dibuang ke sungai sehingga menimbulkan
pencemaran. Pembuangan air limbah baik yang bersumber dari kegiatan domestik
maupun industri dapat menyebabkan pencemaran lingkungan apabila kualitas air
limbah tidak memenuhi baku mutu limbah. Seharusnya air diolah terlebih dahulu
agar tidak menimbulkan pencemaran. Dalam kimia, konsep redoks dapat digunakan
untuk mengatasi permasalah lingkungan seperti pengolahan air kotor.
Redoks adalah reaksi reduksi dan oksidasi yang
berlangsung secara simultan(bersamaan). Pengertian oksidasi dan reduksi telah
mengalami perkembangan. Pada awalnya , reaksi oksidasi dan reduksi dikaitkan
dengan pengikatan dan pelepasan oksigen. Kemudian dikembangkan menjadi proses
serah-terima electron, dan akhirnya dengan perubahan bilangan oksidasi. Dalam
artikel sederhana ini akan dibahas secara sederhana mengenai pengolahan air
kotor/limbah dengan konsep redoks.
TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR LIMBAH
Tujuan utama pengolahan air limbah adalah untuk mengurai
kandungan bahan pencemar di dalam air terutama senyawa organik, padatan
tersuspensi, mikroba pathogen, dan senyawa organic yang tidak dapat diuraikan
oleh mikroorganisme yang terdapat di alam. Selain itu berbagai macam parameter
digunakan untuk menggambarkan keadaan air limbah misalnya kekeruhan, zat padat
tersuspensi, kandungan zat padat terlarut, keasaman(pH), jumlah oksigen
terlarut (DO), dan kebutuhan oksigen biokimia (BOD). DO atau Dissolved oxygen
adalah ukuran jumlah oksigen terlarut. Oksigen terlarut digunakan oleh bakteri
aerob dalam menguraikan sampah organic yang terdapat di dalam air. Banyaknya
oksigen yang diperlukan oleh bakteri aerob untuk menguraikan sampah organik
dalam suatu contoh air disebut BOD atau Biochemical Oxygen Demand. Semakin
banyak sampah organic dalam air, semakin besar nilai BOD. Sebaliknya, kandungan
DO akan semakin kecil.Pengolahan air limbah tersebut dapat dibagi menjadi 5
tahap :
1. Pengolahan Awal
(Pretreatment)
Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah. Beberapa proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah screen and grit removal, equalization and storage, serta oil separation.
Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah. Beberapa proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah screen and grit removal, equalization and storage, serta oil separation.
2. Pengolahan Tahap Pertama
(Primary Treatment)
Pada dasarnya, pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang sama dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung. Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama ialah neutralization, chemical addition and coagulation, flotation,sedimentation, dan filtration.
Pada dasarnya, pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang sama dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung. Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama ialah neutralization, chemical addition and coagulation, flotation,sedimentation, dan filtration.
3. Pengolahan Tahap Kedua
(Secondary
Treatment)
Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Peralatan pengolahan yang umum digunakan pada pengolahan tahap ini ialah activated sludge.
Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Peralatan pengolahan yang umum digunakan pada pengolahan tahap ini ialah activated sludge.
Activated sludge merupakan lumpur yang kaya akan bakteri
aerob, yaitu bakteri yang dapat menguraikan limbah organik dengan cara
mengalami biodegradasi. Pengolahan ini termasuk pengolahan biologi, karena
menggunakan bantuan mikroorganisma pada proses pengolahannya.
Dalam proses ini bakteri aerob mengubah sampah organic
menjadi biomassa dan gas CO2. Sementara nitrogen organic diubah
menjadi ammonium dan nitrat, fosforus organic diubah menjadi fosfat.
CH2O
+ O2 à CO2 (g) + H2O + biomassa
N
organik à NH4+ + NO3-
P
organik à H2PO4- , HPO42-
Biomassa hasil degradasi tetar berada dalam tangki aerasi
hingga bakteri mengalami pertumbuhan cepatnya. Setelah itu akan mengalami
flokulasi membentuk ppadatan yang lebih mudah mengendap. Dari tangki
pengendapan, sebagian lumpur dibuang, sebagian lain disirkulasikan ke dalam
tangki aerasi. Kombinasi antara bakteri dalam konsentrasi tinggi dan lapar
dengan jumlah nutrient yang banyak (dalam air kotor), memungkinkan penguraian
dapat berlangsung dengan cepat.
4. Pengolahan Tahap Ketiga
(Tertiary Treatment)
Proses-proses yang terlibat dalam pengolahan air limbah tahap ketiga ialah coagulation and sedimentation, filtration, carbon adsorption, ion exchange, membrane separation, serta thickening gravity or flotation.
Proses-proses yang terlibat dalam pengolahan air limbah tahap ketiga ialah coagulation and sedimentation, filtration, carbon adsorption, ion exchange, membrane separation, serta thickening gravity or flotation.
5. Pengolahan Lumpur (Sludge
Treatment)
Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat tahap pengolahan sebelumnya kemudian diolah kembali melalui proses digestion or wet combustion, pressure filtration, vacuum filtration,centrifugation, lagooning or drying bed, incineration, atau landfill.
Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat tahap pengolahan sebelumnya kemudian diolah kembali melalui proses digestion or wet combustion, pressure filtration, vacuum filtration,centrifugation, lagooning or drying bed, incineration, atau landfill.
Perlu kita semua sadari bahwa limbah tetaplah limbah.
Solusi terbaik dari pengolahan limbah pada dasarnya ialah menghilangkan limbah
itu sendiri. Produksi bersih (cleaner production) yang bertujuan untuk
mencegah, mengurangi, dan menghilangkan terbentuknya limbah langsung pada
sumbernya di seluruh bagian-bagian proses dapat dicapai dengan penerapan
kebijaksanaan pencegahan, penguasaan teknologi bersih, serta perubahan mendasar
pada sikap dan perilaku manajemen.
PENERAPAN KONSEP REAKSI REDOKS DALAM PENGOLAHAN LIMBAH (LUMPUR
AKTIF)
Salah satu penerapan konsep reaksi redoks dalam
kehidupan sehari-hari adalah dalam bidang pengolahan limbah. Prinsip dasar yang
dipergunakan adalah teroksidasinya bahan-bahan organik maupun anorganik,
sehingga lebih mudah diolah lebih lanjut.
Limbah merupakan salah satu pencemar lingkungan yang perlu
dipikirkan cara-cara mengatasinya. Untuk menjaga dan mencegah lingkungan
tercemar akibat akumulasi limbah yang semakin banyak, berbagai upaya telah
banyak dilakukan untuk memperoleh teknik yang tepat dan efisien sesuai kondisi
lokal.
Berbagai tipe penanganan limbah cair dengan melibatkan
mikroorganisme telah dikerjakan di Indonesia, yaitu sedimentasi, kolam
oksidasi, trickling filter, lumpur aktif (activated sludge), dan septic tank.
Pada uraian ini akan kita pelajari salah satu teknik saja, yaitu teknik lumpur aktif (activated
sludge).
Proses lumpur aktif (activated sludge) merupakan sistem yang
banyak dipakai untuk penanganan limbah cair secara aerobik. Lumpur aktif
merupakan metode yang paling efektif untuk menyingkirkan bahan-bahan
tersuspensi maupun terlarut dari air limbah. Lumpur aktif mengandung
mikroorganisme aerobik yang dapat mencerna limbah mentah. Setelah limbah cair
didiamkan di dalam tangki sedimentasi, limbah dialirkan ke tangki aerasi. Di
dalam tangki aerasi, bakteri heterotrofik berkembang dengan pesatnya. Bakteri tersebut
diaktifkan dengan adanya aliran udara (oksigen) untuk melakukan oksidasi
bahan-bahan organik. Bakteri yang aktif dalam tangki aerasi adalah Escherichia
coli, Enterobacter, Sphaerotilus natans, Beggatoa, Achromobacter,
Flavobacterium, dan Pseudomonas. Bakter-bakteri tersebut membentuk gumpalan- gumpalan atau
flocs. Gumpalan tersebut melayang yang kemudian mengapung di permukaaan limbah.
Metode lumpur aktif memanfaatkan mikroorganisme
(terdiri ± 95% bakteri dan sisanya protozoa, rotifer, dan jamur) sebagai
katalis untuk menguraikan material yang terkandung di dalam air limbah. Proses
lumpur aktif merupakan proses aerasi (membutuhkan oksigen). Pada
proses ini mikroba tumbuh dalam flok (lumpur) yang terdispersi sehingga terjadi
proses degradasi. Proses ini berlangsung dalam reactor yang dilengkapi recycle/umpan
balik lumpur dan cairannya. Lumpur secara aktif mereduksi substrat yang
terkandung di dalam air limbah.
Tahapan-tahapan pengolahan air limbah dengan metode lumpur
aktif secara garis besar adalah sebagai berikut:
1. Tahap awal
Pada tahap ini dilakukan pemisahan benda-benda asing seperti
kayu, bangkai binatang, pasir, dan kerikil. Sisa-sisa partikel digiling agar
tidak merusak alat dalam sistem dan limbah dicampur agar laju aliran dan
konsentrasi partikel konsisten.
2. Tahap primer
Tahap ini disebut juga tahap pengendapan. Partikel-partikel
berukuran suspensi dan partikel-partikel ringan dipisahkan, partikel-partikel
berukuran koloid digumpalkan dengan penambahan elektrolit seperti FeCl3,
FeCl2, Al2(SO4)3, dan CaO.
3. Tahap sekunder
Tahap sekunder meliputi 2 tahap yaitu tahap aerasi (metode
lumpur aktif) dan pengendapan. Pada tahap aerasi oksigen ditambahkan ke dalam
air limbah yang sudah dicampur lumpur aktif untuk pertumbuhan dan berkembang
biak mikroorganisme dalam lumpur. Dengan agitasi yang baik, mikroorganisme
dapat melakukan kontak dengan materi organik dan anorganik kemudian diuraikan
menjadi senyawa yang mudah menguap seperti H2S dan NH3 sehingga
mengurangi bau air limbah. Tahap selanjutnya dilakukan pengendapan. Lumpur
aktif akan mengendap kemudian dimasukkan ke tangki aerasi, sisanya dibuang.
Lumpur yang mengendap inilah yang disebut lumpur bulki.
4. Tahap tersier
Tahap ini disebut tahap pilihan. Tahap ini biasanya untuk
memisahkan kandungan zat-zat yang tidak ramah lingkungan seperti senyawa
nitrat, fosfat, materi organik yang sukar terurai, dan padatan anorganik.
Contoh-contoh perlakuan pada tahap ini sebagai berikut:
a. Nitrifikasi/denitrifikasi
Nitrifikasi adalah pengubahan amonia (NH3 dalam
air atau NH4+) menjadi nitrat (NO3-)
dengan bantuan bakteri aerobik. Reaksi:
2 NH4+(aq) + 3 O2(g) ->
2 NO2-(aq) + 2 H2O(l) + 4 H+(aq)
2 NO2- (aq) +O2(g)à2
NO3- (aq)
Denitrifikasi adalah reduksi nitrat menjadi gas nitrogen
bebas seperti N2, NO, dan NO2.
Senyawa NO3 à gas nitrogen bebas
b. Pemisahan fosfor
Fosfor dapat dipisahkan dengan cara koagulasi/ penggumpalan
dengan garam Al dan Ca, kemudian disaring.
Al2(SO4)3+14H2O(s)
+ 2 PO43-(aq)à2 AIPO4(s) + 3 SO42-(aq)
+ 14 H2O(l)
5 Ca(OH)2(s) + 3 HPO42-(aq)à
Ca5OH(PO4)3(s) + 6 OH-(aq) + 3 H2O(l)
c. Adsorbsi oleh karbon aktif untuk menyerap zat pencemar,
pewarna, dan bau tak sedap.
d. Penyaringan mikro untuk memisahkan partikel kecil seperti
bakteri dan virus.
e. Rawa buatan untuk mengurai materi organik dan anorganik
yang masih tersisa dalam air limbah.
5. Disinfektan
Disinfektan ditambahkan pada tahap ini untuk menghilangkan
mikroorganisme seperti virus dan materi organic penyebab bau dan warna. Air
yang keluar dari tahap ini dapat digunakan untuk irigasi atau keperluan
industri, contoh:
Cl2. Reaksi: Cl2(g) + H2O(l)àHClO(aq)
+ H+(aq) + Cl-(aq)
6. Pengolahan padatan lumpur
Padatan lumpur dari pengolahan ini dapat diuraikan bakteri
aerobik atau anaerobik menghasilkan gas CH4 untuk bahan bakar
dan biosolid untuk pupuk.
Akan tetapi dalam pelaksanaannya metode lumpur aktif
menemui kendala-kendala seperti:
1. Diperlukan areal instalasi pengolahan limbah yang luas,
karena prosesnya berlangsung lama.
2. Menimbulkan limbah baru yakni lumpur bulki akibat
pertumbuhan mikroba berfilamen yang berlebihan.
3. Proses operasinya rumit karena membutuhkan pengawasan
yang cukup ketat.